Indonesia adalah salah satu negara megabiodiversitas dunia, tetapi menghadapi tekanan signifikan akibat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan perdagangan satwa liar. Dalam konteks ini, Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) menyerukan agar kebun binatang di seluruh negeri memprioritaskan pelestarian keanekaragaman hayati sebagai mandat utama. Seruan ini menuntut transformasi kebun binatang dari sekadar tempat rekreasi menjadi lembaga konservasi terakreditasi yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kesejahteraan satwa, tata kelola yang kuat, dan kolaborasi lintas sektor. Esai ini mengulas urgensi, pilar strategi, mekanisme implementasi, indikator kinerja, serta peta jalan untuk mewujudkan kebun binatang yang relevan dan berdampak nyata bagi kelestarian hayati Indonesia.
Latar Belakang: Urgensi Konservasi di Negara Megabiodiversitas
- Posisi Indonesia: Salah satu pusat keanekaragaman hayati global dengan tingkat endemisitas tinggi—mulai dari mamalia besar seperti orangutan, harimau sumatera, dan badak, hingga burung ikonik seperti jalak bali.
- Ancaman: Fragmentasi habitat, perburuan dan perdagangan ilegal, invasi spesies asing, polusi, serta dampak perubahan iklim menempatkan banyak spesies pada risiko kepunahan lokal maupun global.
- Peran Kebun Binatang Modern: Bergeser dari model menagerie menuju pusat konservasi berbasis sains yang menggabungkan fungsi:
- Konservasi ex-situ (pemeliharaan dan pembiakan di luar habitat alami)
- Dukungan in-situ (perlindungan dan pemulihan populasi di habitat asli)
- Pendidikan dan literasi lingkungan
- Riset dan inovasi konservasi
- Kesejahteraan satwa dan One Health (keterkaitan kesehatan satwa, manusia, dan ekosistem)
Dalam ekosistem kebijakan nasional, kebun binatang berstatus lembaga konservasi dan bekerja dalam kerangka perizinan serta pembinaan pemerintah (antara lain melalui KLHK/Dirjen KSDAE dan BKSDA). Seruan PKBSI mempertegas bahwa legitimasi sosial dan masa depan kebun binatang bertumpu pada kontribusi nyata terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.
Mengapa Prioritas Konservasi Adalah Keharusan
- Mandat Etis dan Sosial: Kebun binatang memegang amanah publik untuk melindungi satwa, bukan sekadar memamerkannya. Legitimasi sosial meningkat ketika dampak konservasi terukur.
- Kepatuhan Regulasi: Implementasi standar lembaga konservasi, kesejahteraan satwa, dan praktik perizinan memperkuat tata kelola dan mengurangi risiko hukum.
- Kontribusi pada Agenda Global: Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 15: Kehidupan di Darat) dan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global (Kunming–Montreal), termasuk target perlindungan dan pemulihan spesies.
- Keberlanjutan Finansial: Reputasi baik atas kinerja konservasi mendorong kemitraan, dukungan donor, dan inovasi model bisnis jangka panjang. slot gacor
Pilar Strategi Konservasi Kebun Binatang
- Konservasi Ex-situ Terarah
- Pengelolaan populasi satwa bernilai konservasi tinggi menggunakan studbook, analisis silsilah, dan Population Viability Analysis (PVA).
- Program pembiakan terencana untuk spesies prioritas nasional (mis. satwa endemik dan berstatus terancam).
- Standardisasi data melalui platform seperti ZIMS (Species360) untuk manajemen kesehatan, genetika, dan demografi.
- Dukungan In-situ yang Terukur
- Kolaborasi dengan BKSDA, Taman Nasional, dan LSM untuk restorasi habitat, patroli anti-perburuan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca-lepas.
- Pendanaan terarah: persentase pendapatan kebun binatang dialokasikan bagi program lapangan.
- Kesejahteraan Satwa Tingkat Lanjut
- Penerapan kerangka Five Domains dan pengayaan perilaku yang sistematik.
- Biosekuriti, karantina, dan pengawasan penyakit berbasis pendekatan One Health.
- Pendidikan, Advokasi, dan Perubahan Perilaku
- Program interpretasi berbasis sains, kampanye anti-perdagangan satwa liar, dan literasi keanekaragaman hayati untuk semua segmen pengunjung.
- Partisipasi publik: relawan, citizen science, dan kegiatan sekolah/universitas.
- Riset dan Inovasi
- Riset terapan bersama perguruan tinggi/BRIN: reproduksi, nutrisi, genetika konservasi, etologi, teknologi eDNA, dan bioakustik.
- Pemanfaatan teknologi pelacakan (tagging/RFID/GPS) dan pemantauan kesehatan berbasis data.
- Tata Kelola dan Pembiayaan Berkelanjutan
- Standar akreditasi PKBSI yang ketat, audit independen, dan pelaporan dampak konservasi.
- Skema pembiayaan campuran: pendapatan tiket, filantropi, kemitraan korporasi, serta eksplorasi mekanisme inovatif seperti kredit keanekaragaman hayati.
- Kolaborasi dan One Plan Approach
- Mengadopsi pendekatan One Plan Approach (IUCN SSC/CPSG): menyatukan rencana ex-situ dan in-situ per spesies.
- Keterhubungan dengan jaringan regional dan global (mis. pertukaran pengetahuan, training, dan harmonisasi standar). slot
Implementasi: Dari Seruan ke Aksi
- Penetapan Daftar Spesies Prioritas Nasional
- Kriteria: status ancaman, endemisitas, peran ekologi, kesiapan teknis, dan peluang pelepasliaran jangka menengah-panjang.
- Penyelarasan dengan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) spesies yang disusun pemerintah dan para pemangku kepentingan.
- Program Pemuliaan Terencana dan Manajemen Genetik
- Penunjukan koordinator studbook nasional untuk tiap spesies.
- Pertukaran satwa terkelola untuk memaksimalkan keragaman genetik sambil menjaga biosekuriti.
- Penggunaan PVA untuk menetapkan ukuran populasi target, struktur umur, dan tingkat pertumbuhan yang berkelanjutan.
- Pelepasliaran yang Bertanggung Jawab
- Mematuhi Pedoman IUCN untuk translokasi dan pelepasliaran: asesmen habitat, risiko penyakit, kesiapan perilaku, dan keterlibatan masyarakat lokal.
- Pemantauan pasca-lepas dengan perangkat GPS/bioakustik/kamera jebak, serta protokol respon cepat.
- Standar Kesejahteraan dan Kesehatan
- Audit rutin kesejahteraan satwa oleh tim internal dan evaluator eksternal.
- Laboratorium diagnostik dan rekam medis digital terintegrasi.
- Pelatihan berkelanjutan untuk dokter hewan, kurator, dan perawat satwa.
- Pendidikan dan Komunikasi yang Menggerakkan
- Narasi pameran yang berfokus pada konservasi, bukan sekadar pamer.
- Kurikulum pendidikan yang terintegrasi dengan sekolah/kampus.
- Transparansi: papan informasi dampak konservasi, laporan tahunan, dan kanal digital interaktif.
- Kemitraan Multi-Pihak
- Nota kesepahaman dengan BKSDA/Taman Nasional, LSM konservasi, komunitas lokal, universitas, dan sektor swasta.
- Forum belajar PKBSI: praktik baik, pelatihan teknis, dan peningkatan kapasitas manajerial.
Indikator Kinerja Kunci (KPI) yang Disarankan
| Domain | Contoh KPI | Target 3–5 Tahun |
|---|---|---|
| Konservasi ex-situ | Jumlah spesies prioritas dengan studbook aktif | ≥ 10–15 spesies |
| Genetika populasi | Rata-rata heterozigositas dipertahankan | ≥ 90% dari baseline |
| Pelepasliaran | Spesies dengan protokol pelepasliaran dan monitoring | ≥ 5 spesies |
| Dukungan in-situ | Porsi pendapatan untuk program lapangan | ≥ 5–10% per tahun |
| Kesejahteraan | Skor audit Five Domains | Peringkat “baik” atau lebih |
| Pendidikan | Pengunjung terjangkau program konservasi berkualitas | ≥ 60% pengunjung |
| Riset | Publikasi/hasil riset terapan atau proyek bersama | ≥ 5 per tahun/kebun |
| Tata kelola | Laporan dampak konservasi dipublikasikan | Tahunan, terverifikasi |
- Catatan: KPI harus bersifat SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) dan diaudit secara independen untuk menjaga kredibilitas.
Pembiayaan dan Model Bisnis
- Pengalokasian Internal: Menetapkan pos anggaran konservasi yang jelas, minimal persentase tetap dari pendapatan.
- Kemitraan Korporasi: Skema CSR/ESG dengan target konservasi terukur dan pelaporan bersama.
- Filantropi dan Donasi Publik: Program adopsi satwa simbolik, keanggotaan, dan kampanye digital.
- Inovasi Pendanaan: Eksplorasi kredit keanekaragaman hayati, dukungan hibah riset, dan kolaborasi internasional.
Sains dan Teknologi untuk Dampak Maksimal
- Data dan Analitik: Integrasi data kesehatan, perilaku, dan reproduksi melalui sistem informasi modern; pemodelan populasi untuk pengambilan keputusan.
- Genetika Konservasi: Analisis DNA untuk mengelola garis keturunan, menghindari inbreeding, dan merancang pasangan.
- Pemantauan Lapangan: eDNA, kamera jebak, dan sensor untuk menilai keberhasilan intervensi in-situ.
- One Health: Surveilans zoonosis, pelatihan biosekuriti, dan koordinasi dengan otoritas kesehatan hewan.

