Banjir Bengawan Jero Rendam Puluhan Sekolah di Lamongan, Siswa Dijemput Pakai Perahu

Lamongan, Jawa Timur – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan akibat luapan Bengawan Jero pada hari ini telah menyebabkan puluhan sekolah terendam air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa. Aktivitas belajar mengajar terpaksa dihentikan, dan proses evakuasi siswa dilakukan dengan menggunakan perahu karet dan perahu warga.


Sumber Banjir dan Wilayah Terdampak

Banjir kali ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak dini hari di wilayah hulu sungai, ditambah dengan kapasitas drainase yang sudah tidak optimal. Bengawan Jero—anak sungai Bengawan Solo yang melintasi Lamongan—tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis. slot bet kecil

Wilayah terdampak paling parah meliputi:

  • Kecamatan Karanggeneng
  • Kecamatan Lamongan Kota
  • Kecamatan Turi
  • Beberapa desa di Kecamatan Sukodadi dan Kalitengah

Menurut data sementara dari BPBD Lamongan, tidak kurang dari 30 sekolah—terdiri dari SD, MI, dan SMP—terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 40–120 cm.


Proses Evakuasi: Perahu Menjadi “Transportasi Sekolah”

Pemandangan tidak biasa terlihat di sejumlah titik. Para guru dan relawan menggunakan perahu karet dan perahu tradisional untuk:

  1. Menjemput siswa yang terjebak di rumahnya yang terendam,
  2. Mengantar siswa yang sudah sampai di sekolah kembali ke rumah dengan aman,
  3. Menyelamatkan dokumen penting sekolah seperti arsip dan buku nilai.

“Saya dijemput pakai perahu sama bapak guru karena jalan depan rumah sudah seperti sungai. Tas saya diangkat, kami naik perahu sampai ke jalan besar yang tidak banjir, lalu dilanjutkan dengan ojek,” cerita Siti (9), siswa kelas 3 SDN di Karanggeneng.


Respons Pemerintah dan Dampak Jangka Pendek

BPBD Lamongan telah menetapkan status siaga darurat di sejumlah kecamatan dan membuka posko pengaduan. Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, telah memerintahkan Dinas Pendidikan untuk:

  • Menunda aktivitas sekolah di zona terdampak hingga kondisi aman,
  • Menyiapkan sistem belajar darurat secara daring untuk mencegah ketertinggalan materi,
  • Berkordinasi dengan puskesmas untuk antisipasi penyakit pasca-banjir seperti diare dan ISPA.

“Kami prioritaskan keselamatan siswa dan guru. Untuk sementara, proses belajar dialihkan secara online. Sekolah yang terdampak akan segera dilakukan pembersihan dan disinfeksi setelah air surut,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Lamongan.


Akar Masalah: Dari Sedimentasi hingga Perubahan Iklim

Banjir Bengawan Jero bukan kejadian pertama. Warga dan aktivis lingkungan telah lama menyoroti beberapa masalah struktural:

  1. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah,
  2. Alih fungsi lahan di daerah resapan di hulu,
  3. Drainase perkotaan yang tidak memadai,
  4. Dampak perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi hujan ekstrem.

“Kami sudah sering menyampaikan perlunya normalisasi sungai dan pembuatan tanggul yang lebih kokoh. Tapi ketika hujan besar datang, tetap saja banjir. Ini perlu penanganan serius, bukan hanya respons saat darurat,” ungkap Ahmad Fauzi, aktivis lingkungan Lamongan.


Solidaritas Warga dan Relawan

Di tengah kesulitan, muncul cerita-cerita inspiratif. Para pemuda karang taruna, organisasi keagamaan, dan relawan independen bahu-membahu:

  • Membantu evakuasi warga dan siswa,
  • Membagikan makanan siap saji dan air bersih,
  • Mendirikan posko kesehatan darurat.

“Kalau banjir datang, perbedaan hilang. Yang penting selamatkan warga, terutama anak-anak dan lansia,” kata Mulyadi (42), relawan yang telah tiga hari berturut-turut menggunakan perahu pribadinya untuk membantu evakuasi. slot deposit 5000


Pelajaran untuk Mitigasi ke Depan

Kejadian ini menyisakan catatan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat:

  • Perlu sistem peringatan dini banjir yang lebih efektif,
  • Revitalisasi sungai dan daerah aliran sungai (DAS) harus menjadi prioritas,
  • Sekolah perlu memiliki protokol darurat banjir yang jelas,
  • Infrastrukturdarurat seperti perahu evakuasi harus tersedia di setiap desa rawan banjir.

Kondisi Terkini

Hingga berita ini ditulis, hujan telah reda dan air mulai menunjukkan tanda-tanda surut. Proses pembersihan lumpur dan penilaian kerusakan infrastruktur sekolah akan segera dimulai. Diperkirakan aktivitas sekolah baru dapat kembali normal dalam 2–3 hari ke depan, tergantung kondisi cuaca dan kecepatan penurunan air.

Berita Terbaru:

Baca Juga: