Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19, Ada Tarawih Plus-Plus di Sumenep

Foto Istimewa

Sumenep – Perubahan status Kabupaten Sumenep dari Zona Hijau menjadi Zona Merah penyebaran Covid-19 cukup membuat masyarakat Sumenep semakin cemas dan tentunya khawatir.Terbukti dengan 4 orang masyarakat Sumenep positif covid 19.

Namun, Berbeda dengan salah satu calon bupati Sumenep yang melakukan tindakan yang tidak patut dilakukan ditengah-tengan adanya virus yang sangat meresahkan. Pasalnya, calon bupati tersebut membagi-bagikan bantuan amplop yang berisi uang 300 ribu kepada warga yang terkena dampak Corona, namun amplop tersebut bersampul foto dirinya yang sedang tersenyum disertai kalimat-kalimat meraih simpatik. Ironisnya pembagian tersebut di bagikan setelah sholat tarawih massal yang diadakan di salah satu masjid di Jl. Kartini Sumenep.

Pembagian Amplop itu seharusnya bisa diapresiasi sebagai bentuk kepeduliannya terhadap warga yang terdampak virus Corona, namun disayangkan kenapa harus menampilkan gambar dirinya seperti pola kampanye pilkada.

Pembagian ini sendiri menyasar pada daerah-daerah yang menjadi pendukung calon tersebut di Pilkada Sumenep 2020 nantinya.

Terkait dengan beredarnya Amplop yang dibumbui embel-embel foto salah satu Calon Bupati Sumenep, Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Latfan menilai, amplop yang bergambar Calon Bupati Sumenep memang bertujuan membangun citra diri Calon tersebut.

“Dalam strategi komunikasi penting sebagai top of mind, namun secara etika ya sebaiknya tak dilakukan pada saat pandemi Corona saat ini apalagi pembagianya setelah sholat tarawih. Jauhkan dululah kepentingan politik praktis, masyarakat butuh kepala daerah yang memimpin,” jelas kader PMII Kota Malang tersebut yang berstatus warga Sumenep.

Sementara itu, Mahasiswa asal sumenep Ikwan juga mengkritisi adanya pembagian Amplop   yang berisikan uang 300 ribu tersebut. “Semestinya bencana jangan dijadikan ajang kampanye. Dahulukan kepentingan bersama dan kemanusiaan. Sekalipun itu menggunakan uang APBD atau uang pribadi, sangat tidak etis,” pungkasnya.