Puluhan Pemegang Surat Ijo Gelar Demo di Kantor Pemkot Surabaya

foto istimewa

Surabaya – Puluhan pemegang surat Ijo unjuk rasa di depan kantor Pemkot Surabaya hari ini, mereka menuntut agar Tri Rismaharini, sebagai Walikota Surabaya, mencabut Surat Izin Pemakaian Tanah (SIPT), untuk diganti menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM).

Mereka mengeluh lantaran mereka harus membayar pajak dua kali, satu dibayarkan ke Pemkot Surabaya, dan satu pajak dibayar untuk memenuhi kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pemegang SHM tak perlu lagi membayar biaya Surat Ijo untuk Pemkot.

“Janji Walikota Risma, mengubah Surat Ijo menjadi STHM, bukan sekali dua kali, berkali-kali. Kami capek menjadi ‘kayu bakar’ politik. Hari ini, kami-kami sudah bertekad bulat, gerakan ini akan bergulir bagaikan bola salju,” demikian disampaikan Ning Yatik, yang tak pernah capek turun aksi, sebagai salah satu korban kebijakan Surat Ijo, senin (9/3/2020).

Aksi menolak Surat Ijo ini sebenarnya berlangsung sejak 2010, namun hingga kini permasalahan tersebut belum rampung juga. Yayuk menilai, selama ini ia hanya dimanfaatkan untuk politik pemerintahan saja.

“Orang tua saya dulu juga pejuang Surat Ijo tapi gagal total, hanya janji-janji dari mulai walikota Sebelum Risma. Kami ini rakyat, hanya dipakai sebagai alat untuk memberikan suara pada mereka,” ujarnya.

Masih menurut Sekretaris Dewan Warga Kota Surabaya ini, tak ada kata mundur. Pergerakan korban ‘Surat ijo’ semakin solid.

“Kalau dulu mereka bisa dipecah-belah, dimanfaatkan Pilwali, tidak memiliki pola yang sama dalam gerakan, kini, kondisinya berbeda. Hari ini, kesadaran bersama tumbuh alami. Memperjuangkan hak adalah ibadah,”tandasnya.

Bunyi spanduk demo pun, semakin keras. “STHM HARGA MATI. Lebih Baik Dipenjara Bela Warga Surat Ijo dari pada Masuk Neraka Dholimi Warga’. ‘Pemkot Surabaya BEGAL Rek!!!’, ‘Lepaskan Surat Ijo Gratis atau Kami Demo Tiap Minggu’.