Kenal Lewat Facebook, Petani di Lamongan Cabuli Siswa SMP Hingga Hamil dan Melahirkan

Foto Istimewa

Lamongan – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) asal Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan berinisial AD (14) menjadi korban pencabulan. Korban dicabuli oleh MD (25), seorang petani yang baru dikenal setengah bulan melalui Facebook. MD pun hamil dan sudah melahirkan seorang anak perempuan.

Kapolres Lamongan AKBP Harun mengatakan, perbuatan biadab itu dilakukan saat tersangka mengajak AD berkunjung ke rumahnya pada Agustus tahun lalu. Alasannya ketika itu pelaku akan mengenalkan AD ke orangtuanya. Sesampainya di sana, korban dipaksa untuk masuk ke dalam kamar.

“Korban disetubuhi dengan bujuk rayu karena hubungan mereka sudah disetujui oleh ibu pelaku dan kejadian tersebut terjadi sebanyak 5 kali,” kata Harun, Jumat (19/6/2020).

SeteIah melakukan persetubuhan tersebut, pelaku mengancam akan membunuh dan menyebarkan aib korban pada setiap orang. Jika korban berani bercerita ke orang lain, pelaku mengancam akan mengatakan kepada semua orang jika korban sudah tidak perawan lagi.

“Karena dibawa ancaman tersangka, korban tidak berani bercerita kepada orangtuanya. Pada 12 Juni 2020, korban mengeluh sakit perut dan diajak ke bidan desa, setelah diperiksa korban ternyata mau melahirkan,” ungkapnya.

Orang tua korban, lanjut Harun, awalnya tidak menyangka ketika korban mengeluh sakit perut tersebut ternyata sedang hamil. Pasalnya, postur korban yang bongsor dan saat hamil tidak memiliki ciri-ciri kalau sedang mengandung. Setelah didesak, korban akhirnya mengaku jika Sutiyono adalah orang yang telah membuat korban hamil.

“Sebelum dilaporkan ke polisi, kedua belah pihak sudah melakukan mediasi tapi tidak menemukan solusi. Sehingga orang tua korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polres,” tandasnya.

Menerima laporan dari orang tua korban, polisi pun langsung melakukan penyidikan dan mengamankan pelaku. Pelaku dijerat pasal 81 ayat ( 1) dan (2) dan atau Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak dengan ancaman hukuman minima 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.