DPRD Jatim Dorong Pengembangan Ekonomi Demi Tekan Angka Kemiskinan di Sampang

Jatimpost.com – Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Aliyadi Musthofa menggelar dengar pendapat atau reses III di tahun 2021 di Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura.

Kegiatan reses tersebut juga sekaligus memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dab dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak.

Dalam kesempatan itu, Aliyadi pemerintah di provinsi ujung pulau Jawa ini agar bersama-sama menekan angka kemiskinan yang berada di Kabupaten Sampang. Hal tersebut ia katakan mengingat saat ini angka kemiskinan berada di angka 22 persen.

Oleh karenanya, ia katakan butuh kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintahan yang ada di daerah, dalam menekan angka kemiskinan itu.

“Ini menjadi tugas kita semua, terutama pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten bersama-sama mengurangi angka kemiskinan. Tentu dengan berbagai cara, salah satunya kita dorong sektor ekonominya,” kata Aliyadi, Minggu (31/10/2021) kemarin.

Anggota dewan dari Fraksi PKB Jatim ini mengatakan, saat ini ia menduduki komisi B yang membidangi masalah perekonomian. Oleh karenanya, pihaknya juga akan berusaha mencari celah agar masalah kemiskinan di Jatim dapat ditekan. Ia berencana akan meningkatkan sektor potensial yang ada. Seperti UMKM, desa wisata, koperasi, pertania dan yang lainnya.

“Karena kebetulan di Komisi B itu adalah komisi ekonomi, maka dari berbagai hal yang berpotensi ekonomi tentu akan kami terus berjuang. Misalnya, melalui UMKM, koperasi, pariwisata, dan semua yang berpotensi ekonomi, lebih lebih yang berdampak kepada masyarakat lokal,” tandasnya.

Sementara itu, Wagub Jatim, Emil mengatakan perlunya peningkatan potensi pertanian untuk mengatasi kemiskinan di Madura. Ia mengungkapkan, salah satu penyebab kemiskinan di Kabupaten Sampang bukan karena tingginya angka pengangguran, akan tetapi karena mayoritas masyarakat di Sampang bekerja di sektor pertanian. Bahkan, sekitar 30 persen masyarakat Sampang bekerja sebagai seorang petani.

Menurut Emil, penghasilan para petani di Sampang masih rendah sehingga tidak bisa membuat masyarakat keluar dari garis kemiskinan. Oleh karenanya, untuk mengatasi masalah ini, pihaknya akan bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya untuk mengidentifikasi masalah apa yang dihadapi oleh para petani di Sampang.

“Pengentasan kemiskinan ini bukan hanya pekerjaan Dinas Sosial tapi juga dinas (bidang) perekonomian,” jelasnya