Dosen UIN Malang Ungkap Dua Aplikasi Yang Diyakini Bisa Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital Learning

Foto Istimewa

JatimPost, Malang Ditengah masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, pembelajaran harus tetap berjalan dengan mengikuti kebijakan pemerintah yakni dilakukan secara daring (online).  Sebab itu, husunya tenaga pengajar bahasa, tentu harus berfikir dua kali untuk memunculkan ide-ide kreativitas agar pembelajaran bahasa tetap berjalan optimal.

Seperti yang dilakukan oleh Dosen Bahasa Arab UIN Malang (UIN Maliki Malang), Ahmad Makki Hasan mengatakan, masa pandemi bukan dijadikan alasan pembelajaran Bahasa Arab menjadi tidak maksimal.

Menurutnya, ada banyak cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab di luar bangku kuliah. Misalnya dengan memanfaatkan media sosial dan akses informasi di internet yang ada kaitanya dengan materi pembelajaran Bahasa Arab.

“Media pembelajaran Bahasa Arab di masa pandemi diharuskan memanfaatkan aplikasi digital,” kata Makki, Minggu (31/1/2021).

Ia memberikan dua contoh aplikasi belajar bahasa Arab yang recommended, yakni Salma dan MiSK. Keduanya media tersebut bisa membantu pembelajaran bahasa Arab berbasis digital.

Dosen yang juga menjabat sebagai Ketua Forum MGMP Bahasa Arab se-Indonesia itu menuturkan, Belajar bahasa tidak hanya seputar teori, namun ada pula praktek , berbeda dengan belajar mata kuliah lainnya. Ada beberapa aspek atau indikator yang harus diperhatikan untuk menunjang para siswa/mahasiswa supaya cepat menguasai materi bahasa tersebut.

“Yang terpenting adalah Guru/Dosen harus betul betul memperhatikan pada peningkatan keterampilan berbahasa. Meliputi menyimak, berbicara, membaca dan mendengar,” tuturnya.

Sebab itulah, lanjut makki, dibutuhkan kreativitas dan inovasi para guru atau dosen serta mahasiswanya. Jika tidak bisa memanfaatkan teknologi digital, mereka akan kerapkali diuji dengan persoalan yang berbau teknis.

Makki berharap ketersediaan sarana dan prasarana baik dari sisi guru, maupun peserta didik dapat memfasilitasi untuk menunjang proses KBM. Belum lagi masalah keterbatasan kemampuan dalam penggunaan media pembelajaran terkini (digital learning).