Derita Alif, Hidup dengan Usus Diluar Perut

MOJOKERTO, Jatimpost.com – Selama delapan tahun lebih, Febrio Nur Alif (9), hidup dengan kondisi tubuh yang tak normal. Bagian perutnya harus dilubangi untuk mengeluarkan ususnya. Kelainan yang biasa disebut kolostomi itu mengharuskan Alif hidup dengan usus di luar perut. Berbagai kesulitan pun ia alami sehari-hari.

Alif tak menggunakan kantong khusus sebagai tempat ususnya itu. Tiga bulan setelah operasi perut saat ia berumur tujuh bulan itu, Alif hanya menggunakan kantung plastik yang biasa untuk mengemas gula. Tentu saja, ia kembali menemui kesulitan. Terlebih saat bergaul dengan teman sebayanya. Dengan kantung plastik tempat usus yang tak memenuhi standar medis itu, Alif kerap kali diejek teman-temannya lantaran bau busuk yang muncul dari feses dalam kantung plastik tersebut.

Kondisi ini membuat Alif minder memasuki bangku sekolah. Di usianya yang sudah menginjak sembilan tahun saat ini, Alif baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Alif harus berjuang melawan malu saat teman-temannya mengeluhkan bau busuk fesesnya di dalam kantung plastik yang ia masukkan di dalam baju. “Baru tahun ini mau sekolah. Sebelumnya malu karena sering diejek bau busuk fesesnya,” ujar Emik, ibunda Alif.

Emik sebenarnya memimpikan sang anak memakai kantung khusus sebagai tempat ususnya itu. Alasan biayalah yang mengharuskan dirinya untuk memakai kantung darurat dari plastik bening yang biasa dipakai mengemas gula. Usus Alif seberat 1,5 kilogram itu bergantung dari kantung plastik tipis berharga murah tersebut. “Kalau kantung khususnya selembar harganya Rp70 ribu. Padahal dalam sehari harus ganti tiga kali,” keluh Emik.

Tiga bulan pascaoperasi, Alif sempat menggunakan kantung khusus meski biayanya dirasa berat oleh Emik. Setelah tiga bulan itu, Emik memutuskan untuk menggunakan kantung darurat hingga saat ini. Dalam sehari, Emik mengganti kantung plastik yang berisi usus dan bercampur feses sebanyak tujuh kali. Ia juga harus mencuci usus Alif saat ada feses yang keluar dari usus. “Harus telaten seperti ini. Yang saya pikirkan adalah rasa minder Alif kalau teman-temannya mengolok-olok,” katanya.

Sakit yang diderita Alif bermula saat ia berumur tujuh bulan. Saat itu, Alif kerap menangis saat buang air besar. Ditambah lagi, warna feses Alif yang selalu berwarna hitam. Dari situ, Emik berupaya untuk merawat anaknya di RSUD RA Basuni, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Minimnya peralatan di rumah sakit itu, dokter menyarankan Alif untuk dirujuk ke Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya.

“Ada kelainan di ususnya, sehingga ada bagian usus yang dipotong, lalu ususnya berada di luar perut agar fesesnya lancar,” kata warga Dusun Gembongan, Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini.

Pasca operasi, Emik tak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar anaknya bisa menjadi anak normal. Terlebih, alasan biaya membuatnya menutup rapat-rapat harapan untuk berobat lanjutan. Ia harus sangat sabar merawat Alif yang kerap mengeluhkan kantung plastik yang ditempel di perutnya itu. “Mengeluh sakitnya jarang. Hanya memang dia kerap sedih saat diolok-olok teman-temannya. Itu yang membuat saya sedih. Tapi mau bagaimana lagi, kondisinya memang begitu,” kata Emik, pasrah.

Operasi perut bukanlah tindakan medis pertama yang dijalani Alif. Saat berumur 2,5 tahun, bocah pendiam itu juga harus menjalani bedah saluran kencing. Saat operasi, di dalam saluran kencing Alif terdapat batu dengan ukuran yang cukup besar. Sebelum menjalani operasi, Alif kerap menangis saat buang air kecil. “Saya hanya bisa berharap agar anak saya bisa hidup normal. Entah bagaimana Tuhan nanti memberikan jalan,” ucapnya penuh harap.