Anggota DPRD Jatim Dukung PB Djarum Lanjutkan Audisi Beasiswa Bulutangkis

Surabaya Anggota DPRD Jawa Timur Ubaidillah ikut angkat bicara soal polemik audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum yang dianggap melakukan eksploitasi anak  oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ia melihat dalam proses audisi tidak ditemukan adanya eksploitasi anak sebagai mana yang telah dituduhkan, namun justru audisi tersebut mampu mencetak atlek berprestasi, seperti Kevin Sanjaya Sukomulyo dan M. Ahsan. Sebab itu, ia sangat mendukung PB Djarum untuk melanjutkan audisi beasiswa bulutangkis yang sudah menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia itu.

Politisi PKB Jawa Timur itu menyoroti Undang-Undang yang digunakan KPAI terkait eksploitasi anak.  Memang ada pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mau pun PP No 109 Tahun 2012. Namun seperti yang disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi setelah dilakukan kajian hukum, tidak ditemukan adanya unsur eksploitasi anak sebagai mana yang telah dituduhkan.

“Tak ada masalah jika audisi terus dilanjutkan karena peningkatan prestasi olahraga kita terutama bulungtangkis membutuhkan CSR (sponsor) untuk pengembangan usia dini,” ungkapnya, Senin (9/9/2019).

Ubaidillah menyayangkan KPAI yang mempermasalahkan brand atau logo Djarum yang tersemat di kaos beasiswa Djarum digunakan oleh oleh anak-anak yang mengikuti audisi beasiswa bulutanggis. KPAI juga tidak perlu mengatakan kepada media bahwa telah terjadi eksploitasi sehingga menjadi polemik di masyarakat.

“Akan lebih baik kalau KPAI melakukan musyawarah mufakat dan mencari solusi bersama kalau memang hanya soal tulisan pada kaos pemain,” terang politisi muda dari dapil Jatim IV (Banyuwangi-Situbondo-Bondowoso) itu.

Ia meminta lembaga pemerintah untuk berhati-hati dalam menyikapi persoalan yang ada, terlebih jika itu bersinggungan dengan perusahaan yang memberikan Corporate Social Responsibility (CSR) nya untuk masyarakat, seperti audisi beasiswa bulutangkis Djarum. Karena dengan berhentinya program tersebut sangat merugikan olahraga nasional. Telebih lagi, olahraga tersebut yang kerap kali membawa harum nama Indonesia di kanca Internasional.

“Bulutangkis Indonesia membutuhkan banyak turnamen usia dini agar proses regenerasi terus berlangsung dan membawa harum nama Indonesia,” pungkasnya.[rw]