Alami Kekeringan, Sejumlah Desa di Bondowoso Krisis Air

Bondowoso – Akibat dilanda kekeringan dan kemarau panjang, sejumlah desa di Kabupaten Bondowoso terdampak krisis air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus rela berjalan kaki menuruni medan yang terjal.

Selain hambatan medan, warga diharuskan untuk menunggu lama. Karena bergantian dan mengantre dengan warga yang lain.

Untuk mengisi satu timba berukuran 10 liter air saja, mereka memerlukan waktu selama satu jam. Hal itu karena debit air yang ada memang sangat kecil.

“Kalau tidak begitu, kan kami tidak bisa minum dan masak mas,” ujar Pak Samo, (46), warga Dukun Soka’an, Desa Penang, Botolinggo, saat ditemui dirumahnya, Selasa (14/8/2018).

Kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih, sambung Pak Samo, sebenarnya terjadi setiap tahun. Hanya saja, pada tahun ini terasa paling susah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dia mengaku, BPBD Bondowoso setempat sebenarnya juga sudah melakukan droping air bersih secara berkala. Hanya saja lokasi dropingnya masih cukup jauh dari wilayahnya. Karena dusunnya memang tak dapat terjangkau mobil tangki yang biasanya menyuplai air bersih.

Dari informasi yang didapat, saat ini sedikitnya ada 46 desa yang tersebar di 14 kecamatan di Bondowoso, akan dilanda kekeringan.

Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan BMKG, kemarau panjang di Jawa Timur, khususnya Bondowoso, kekeringan akan terjadi di bulan Agustus-Oktober.

“Kami memang sudah menerima pemberitahuan dari BMKG tentang perkiraan datangnya musim kemarau panjang,” terang Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Kedaruratan BPBD Bondowoso, Winarto, dikonfirmasi via telepon.

Untuk itu, imbuhnya, pihaknya sudah mulai menyusun rencana pendistribusian air bersih ke daerah-daerah yang memang rawan dilanda kekeringan.

“Armada memang sudah kami disiapkan. Jadi jika memang sewaktu-waktu dibutuhkan, kami bisa langsung mengirimkan air bersih ke daerah-daerah tersebut,” terang Winarto.