Jatimpost.com – Selama bulan Ramadhan, penjualan cincau di Sumenep mengalami lonjakan signifikan hingga tembus 100 kaleng ukuran 20 liter per hari atau total 2.000 liter.
Melansir Kompas.com, salah satu lonjakan tersebut terjadi di rumah produksi milik Ibu Hosni, warga Desa Paberasan, Kecamatan Kota.
Setiap hari ia memproduksi sejak pagi demi memenuhi pesanan pedagang takjil dan minuman berbuka.
Hosni menuturkan, pada hari biasa, penjualan jauh lebih rendah. Rata-rata hanya 5-10 kaleng ukuran 20 liter per hari. Namun, saat memasuki momen Ramadhan, penjualan menjadi yang tertinggi.
“Kalau sudah masuk puasa, pesanan datang terus. Kadang sebelum siang sudah banyak yang ambil,” kata Hosni, Senin (23/2/2026).
Meski permintaan meningkat drastis, harga tidak berubah. Cincau tetap di jual Rp 5.000 per potong untuk pembelian eceran.
Sementara harga per kaleng ukuran 20 liter dipatok Rp 55.000-Rp 60.000.
Artinya, jika mengambil patokan harga terendah, dan penjualan paling tinggi di hari-hari biasa, Hosni hanya menghasilkan omzet sebesar Rp 550.000 per hari.
Di momen Ramadhan, omzet tersebut melambung hingga lebih dari Rp 5,5 juta per hari. Hosni mengaku sengaja tidak menaikkan harga, meski produksi meningkat dan tenaga kerja bertambah.
“Takut pembeli keberatan, nanti tidak kembali lagi,” ujar dia.
Di tingkat pedagang, setahu Hosni, cincau itu kembali dijual dengan harga sekitar Rp 70.000-Rp 80.000 per kaleng.
Selama Ramadhan, umumnya produk itu digunakan untuk campuran es buah dan minuman segar yang banyak diburu saat berbuka puasa.
Akibat permintaan naik drastis, waktu produksi pun menjadi lebih lama.
Jika hari biasa hanya dibantu satu orang, selama Ramadhan, Hosni menambah hingga tiga pekerja, demi mempercepat proses produksi.
“Kalau tidak tambah tenaga, tidak akan cukup. Sekarang produksi hampir nonstop,” ucap dia.
Usaha cincau ini sudah berjalan lama, dan menjadi salah satu yang tertua di Sumenep. Hosni menyebut, bisnis cincau itu telah memasuki generasi ketiga dalam keluarganya.
“Dulu orangtua saya yang mulai. Sekarang saya lanjutkan, nanti anak-anak juga sudah mulai belajar,” kata Hosni.
Menurut Hosni, Ramadhan selalu menjadi momentum peningkatan omzet. Namun, Hosni memilih menjaga kualitas dan harga tetap stabil, agar pelanggan tetap bertahan setelah bulan puasa berakhir.

