Monument Tugu Lontar Kebomas Kembali Tuai Kritikan, Warga: Bongkar Saja Ganti Tugu Wali atau Tugu Pudak.

Foto Istimewa

JatimPost, Gresik – Tugu Lontar yang dibangun PT Smelting yang diketahui bekerja sama dengan Pemkab Gresik di Perempatan Kebomas, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik kembali mendapat kritik serius dari masyarakat.

Kritikan masyarakat tersebut lebih terhadap kondisi tugu yang dibangun dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility) PT Smelting yang bekerjasama dengan Pemkab Gresik, lantaran kondisinya memprihatikan.

Diketahui penampungan air mancur yang ada dalam Tugu Lontar tersebut sudah beberapa bulan ini mengalami bocor, sehingga menyebabkan genangan air di jalan raya. Hal tersebut tentu membuat pengguna jalan yang melintas di sekitar tugu sangat terganggu. Hal tersebut juga menyebabkan Jalan di sekitar tugu pun mulai rusak.

Tak hanya itu, kondisi tugu yang kabarnya menghabiskan anggaran senilai miliaran rupiah tersebut  terlihat tak terawat, pasalnya Tugu tersebut terlihat berlumut. Kabarnya juga tugu tersebut kerap dijadikan pejalan kaki sebagai tempat cuci kaki dan juga sandal yang kotor.

“Sudah bocor, kondisinya jorok dan sering terlihat dibuat pejalan kaki bersihkan kaki, sandal, atau sepatu di guyuran air mancur,” ungkap Hadi, salah satu pengguna jalan, Senin (30/11/2020).

Sejumlah warga sekitar mengaku telah berkali-kali memberitahukan kepada instansi terkait soal bocornya Tugu Lontar. Namun, tak kunjung ada perbaikan. “Sudah pernah saya laporkan, tapi nggak ada tindak lanjut,” ujar Arif, warga sekitar.

Agus, salah satu warga justru meminta agar Monumen Tugu Lontar dibongkar dan diganti dengan bangunan monumen lain seperti Tugu Wali, Tugu Pudak, atau tugu lain yang mencirikan daerah Kebomas. “Bongkar saja ganti Tugu Wali atau Tugu Pudak simbol khas kota kita Gresik,” ujarnya.

Selain itu, kritikan juga datang dari Perkumpulan Kaum Giri/Makam Sunan Giri, mereka menilai keberadaan Monumen Tugu Lontar di Perempatan Kebomas kurang tepat. Pasalnya, penempatan Tugu Lontar tersebut sama sekali tak mengandung nilai sejarah wilayah Kebomas, khususnya Giri. “Masi mending dibangun Kerbau Emas sesuai dengan nilai sejarah wilayah Kebomas,” ujar Gilang.