Kisah Sukses Tunanetra Asal Kediri Ini Bukti Keterbatasan Fisik Tak Jadi Penghalang

Foto Istimewa

JatimPost, Kediri – Cacat fisik bukan berarti menjadi penghalang seseorang dalam berkarya. Itulah pedoman Totok Yulianto, 45, seorang tuna netra asal Desa Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, pantas dijadikan inspirasi. Meski dalam keterbatasan, ternyata bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya dan keluar dari ujian kesulitan yang diberikan Tuhan. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk disematkan kepadanya.

Totok, panggilan akrabnya, mampu keluar dari kesulitan dengan membuat usaha pahatan meja dan kursi dari bambu yang dijalani selama 10 tahun terakhir.

Berbagai ujian hidup sudah pernah ia lewati, bahkan Totok mengaku pernah merasakan frustasi akibat sakit mata yang diderita sehingga sampai menyebabkan kehilangan mata alias buta yang kemudian ia harus merasakan depresi selama 2 tahun sejak tahun 2008 hingga 2010. Selain mengalami kebutaan mata, saat itu dia mendapat ujian bertubi-tubi seperti kehilangan anak pertama dan ditinggal pergi oleh sang istri.

Setelah Dua tahun menjalani hidup dalam kekecewaan dan kesedihan, Totok Yulianto kemudian berani mengambil keputusan yang cukup berat untuk bangkit. Meski dalam keterbatasan, ia mempunyai keinginan buah hatinya tetap bisa bahagia, serta menempuh kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Bermodal uang Rp 2 juta dari pemberian temannya, pria bergelar Sarjana Ekonomi tersebut memutuskan untuk membeli sejumlah limbah kayu dan bambu serta peralatan memahat. Dengan berbekal kecintaannya pada dunia seni, ia kemudian mencoba menyulap limbah tersebut menjadi kursi dan pigura.

“Memilih menggunakan bambu untuk dipahat dan dijadikan karya seni karena saat itu bambu barang yang mudah ditemui,” kata Totok.

Dalam proses produksi, Totok hanya mengandalkan indera perabanya, hal tersebut justru mampu membuat ukiran yang indah pada meja dan kursi karyanya. Walhasil, kini hasil karya Totok Yulianto telah menyebar terjual ke berbagai daerah di Indonesia.

Harganya juga bervariasi mulai dari Rp. 1 juta hingga Rp. 5 juta, tergantung jenis dan tingkat kerumitan. Dan berkat hasil kerja keras dan ketekunannya itu, Totok mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

Menurut Totok ia hanya memakan waktu 3 minggu hingga 1 bulan untuk 1 set kursi bambu. Selain menghasilkan kursi bambu, Totok juga bisa memproduksi pigora, tempat sampah dan juga pahatan meja kayu.

“Cukup memakan waktu antara 3 minggu sampai 1 Bulan untuk mengerjakan kursi bambu dan meja kayu. Kalau tempat sampah dan pigora mungkin hanya sekitaran butuh waktu 2 minggu,” bebernya.