Hari Kartini: Tak ada Lagi Candaan Bersifat Seksual Terhadap Perempuan

jatimpost.com – 21 April, Hari Kartini menjadi momen yang membanggakan bagi kaum perempuan Indonesia. Karena hari tersebut menjadi simbol kebangkitan dan kebebasan untuk perempuan dalam berekspresi, berkarya dalam segala bidang, baik sosial, ekonomi dan politik dengan semangat tidak ada lagi istilah patriariki, yang menomerdukan perempuan.

Semangat membara yang di bawa Raden Ajeng Kartini atas hak-hak perempuan di kehidupan sosial membuat Politisi PKB Tulunggaung Yuli Nadhifah Triswati bersemangat untuk menghilangkan candaan bersifat seksual terhadap perempuan yang sering dilakukan oleh kaum laki-laki. Seperti yang banyak terjadi dan diketahui bersama, perempuan sering menjadi objek candaan, baik itu melalui perkataan, meme dan stiker pesan di media sosial.

“Sering bapak-bapak itu ngirim meme dan stiker wanita seksi dengan caption yang bernada seksual di beranda FB dan juga di dalam group whatsapp,” ungkap Anggota DPRD Tulungagung dari Dapil V (Kec Karangrejo, Sendang Pagerjowo, Kauman da Gondang) itu.

Hal tersebut tanpa disadari adalah sudah dalam bentu pelecehan terhadap harga diri seorang perempuan. Ia sangat berharap meme dan stiker yang demikian itu sudah tidak lagi ada di media sosial karena dirinya sebagai perempuan merasa sangat risih.

untuk itu, Mbak Yuli mengajak kaum perempuan Indonesia khususnya Tulungagung untuk memanfaatkan ruang-ruang sosial, ekonomi, dan politik untuk berkarya tanpa meninggalkan kondratnya sebagai wanita dan ibu dalam keluarga. Ia menganggap, bahwa dengan karya itu, perempuan tidak lagi dinomerduakan seperti yang dilakukan oleh Kartini.

“Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu, tentu saya merasa bangga atas perjuangan beliau (Kartini) dan bisa mengispirasi kaum perempuan saat ini untuk berkarya,” ungkap Bendahara PC Fatayat-NU Tulungagung periode 2019-2020.

Semangat juang yang dipelopori oleh Kartini, kata Mbak Yuli harus tertanam pada diri perempuan-perempuan muda Indonesia. Hari Kartini bukan lagi soal berkebaya, namun bagaimana perempuan bisa berkarya dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.