Gelar Aksi Demo, Mahasiswa IAIN Ponorogo Tuntut Pengurangan UKT 50 Persen

Foto Istimewa

Ponorogo – Ratusan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo melakukan aksi di depan kantor Rektor kampusnya. Mereka menuntut pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 50 persen.

Mengenakan jas almamater dan masker, para mahasiswa yang berjumlah puluhan berusaha menemui pihak rektoran. Kericuhan sempat terjadi saat para mahasiswa saling dorong untuk masuk kantor rektorat.

“Kami ingin menyampaikan tiga tuntutan,” tutur Korlap Aji Binawan Putra, Selasa (16/6/2020).

Aji merinci tiga tuntutan mereka, pertama meminta pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 50 persen. Kedua, para mahasiswa ini juga menuntut diterbitkannya pembelajaran sistem daring saat semester gasal.

Ketiga, mereka juga menuntut rektor agar berada di barisan mahasiswa untuk menyuarakan realisasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1195 Tahun 2019 tentang UKT pada perguruan tinggi keagamaan negeri di Kemenag tahun 2020 – 2021.

“Hasil kesepakatan hari ini pemotongan UKT sebesar 15 persen dianggap paling pas dan paling tinggi, sebab kita juga harus mempertimbangkan kebutuhan yang lain,” jelas Aji.

Sebernarnya Aji dan mahasiswa lain tidak puas dengan keputusan tersebut. Namun dirinya juga mempertimbangkan kebutuhan lain yang dibiayai dari UKT.

“Kalau bicara puas dan tidak jelas tidak puas. Tapi kami pertimbangkan seluruh operasional di kampus juga,” tambahnya.

Sementara Rektor IAIN Ponorogo Siti Maryam Yusuf mengatakan bahwa sudah menerima 8 mahasiswa sebagai perwakilan. Ada tiga poin yang telah disepakati.

Ketiga poin itu adalah pemotongan UKT sampai 15 persen, perkuliahan sebisa mungkin dilakukan secara offline serta dirinya menyatakan akan bersama mahasiswa.

“Nanti akan diumumkan oleh bendahara tentang berapa besaran potongannya. Itu nanti diumumkan sebelum pembayaran UKT,” papar Siti Maryam.

Tidak hanya itu, menurut Siti Maryam, pembayaran UKT juga akan diundur 24 Juli 2020. Pihak kampus hanya menyetujui potongan sebesar 15 persen, karena jika 50 persen, tidak bisa digunakan untuk lainnya.

“Tidak ada skripsi dan lain-lain. Tidak ada juga kegiatan mahasiswa,” tandasnya.