Covid-19 Belum Selesai, DBD Kembali Serang 5.104 Warga Jatim

ilustrasi

Jatimpost.com – Kasus penyebaran covid-19 di Jawa Timur terus mengalami peningkatan. Per-tanggal 20 Juni, jumlah pasien terkonfirmasi positif sebanyak 9.528 orang. Namun di tengah semakin meningkatnya pasien covid-19, Demam Berdarah Dengue (PDB) tak disadari juga telah menyerang warga Jawa Timur. Bahkan per-tanggal 15 Juni 2020, jumlah pasien DBD mencapai angka 5.104 orang. Jumlah yang cukup tinggi tersebut mengundang kekhawatiran Wakil Ketua DPR Jawa Timur Anik Maslachah.

Menurut Anik, pemerintah seharusnya sudah berbagi peran dalam mengantisipasi terjadinya ledakan jumlah pasien DBD. Sebab DBD tersebut merupakan kasus yang menyerang Indonesia khususnya Jawa Timur setiap tahunnya karena sebagai negara tropis, dimana nyamuk aedes aegypti mampu berkembang biak dengan pesat. Terlebih lagi, DBD juga tidak kalah bahanya dengan covid-19 jika tidak cepat ditangani karena juga dapat menyebabkan kematian.

“DBD juga sama bahayanya, apa lagi data menunjukkan dari 5104 yg terpapar, 50 (1%) yg meninggal. Kondisi demikian jangan sampai kita meremehkan,” ungkap Politisi PKB Jawa Timur itu.

Untuk itu, Anik meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan Langkah-langkah preventif dengan melibatkan masyarakat. Sebab pencegahan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah seperti fogging tidak berjalan efektif. Fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa tidak sampai pada membunuh jentik nyamuk atau larva. Sehingga populasi nyamuk dalam jangka 2-3 hari sudah kembeli.

Selain itu, pemerintah juga harus bisa menekan masyarakat berperilaku sehat dengan memperhatikan lingkungannya dengan meminimalisir adanya gerangan air di area rumah, menguras bak mandi secara teratur (menabur bubuk abate pada tempat penampungan air) dan jika menemukan jentik nyamuk segera dibasmi.

Sementara itu, Kadinkes Jatim dr. Herlin Ferliana, M.Kes menjelaskan jika perubahan iklim saat ini merupakan salah satu faktor meningkatnya angka demam berdarah di Jatim di samping beberapa faktor lain.

“Hujan panas, memungkinkan perkembangbiakan vektor Aedes aegypti bertambah banyak,” terang Herlin.

Faktor lain di antaranya aktivitas masyarakat pada masa pandemi lebih banyak dilakukan dalam rumah. Sehingga potensi risiko gigitan nyamuk makin besar. 

“Aktifitas masyarakat saat ini dengan adanya pandemi Corona, lebih banyak tinggal di rumah. Di mana risiko gigitan nyamuk semakin besar,” imbuhnya. 

Belum lagi upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tidak rutin dan berkesinambungan. Mengakibatkan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti semakin banyak.

Terkait beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kematian tinggi, di antaranya adalah keterlambatan mendiagnosa, DBD dianggap panas biasa, keterlambatan membawa pasien dari rumah ke faskes serta tata laksana kasus belum optimal.