Calon Bupati Lamongan Dorong Perda yang Berpihak pada Guru Ngaji

Lamongan – Pendidikan pesantren diyakini sebagai salah satu sistem pendidikan terbaik di negeri ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya alumni pesantren yang turut serta membangun negara ini.

Sebab itu, terbitnya UU Pesantren harus didukung dan ditindaklanjuti lewat perda di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Hal ini disampaikan oleh H. Sholahuddin, Bendahara PCNU Lamongan saat menjadi narasumber pada Halaqah Kebangsaan; Sosialisasi dan Bedah Undang-undang Pesantren.

“UU Pesantren ini mestinya bisa memicu pemerintah daerah untuk menerbitkan perda terkait. Misalnya soal kesejahteraan guru ngaji dan guru madin. Saya itu mau nangis, mendengar guru ngaji dan madin itu hanya mendapatkan insentif 200 ribu/tahun. Ini kalau dibagi per bulan, hanya dapat sekitar 17 ribu,” jelas Kaji Sholah, panggilan akrabnya, di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Paciran, Lamongan, Senin (4/11/2019).

Lebih lanjut, Kaji Sholah yang hendak maju sebagai calon bupati Lamongan, bertekad akan mewujudkan perda-perda yang berpihak pada guru ngaji dan guru madrasah diniyah. Supaya kesejahteraan mereka meningkat.

“Kita akan upayakan, supaya guru ngaji itu bisa mengajar dengan hati tenang. Tidak lagi bingung memikirkan di rumah ada beras atau tidak,” tekad beliau.

Lebih lanjut, Kaji Sholah menyatakan bahwa untuk memacu kemandirian, pesantren perlu memetakan potensinya masing-masing. Baik lewat koperasi atau lewat usaha di bidang pertanian dan peternakan.

“Karyawan atau pegawai koperasi, bisa diambilkan dari santri pasca sekolah (senior) yang biasanya masih ikut mondok. Selain bisa membantu pesantren dari segi ekonomi, juga mendidik santri agar siap berusaha setelah keluar dari pondok nanti.” tambahnya.

“Supaya maksimal, perlu ada pendampingan yang instens kepada pesantren dari dinas terkait. Misalnya, dinas pertanian, dinas peternakan, atau koperasi dan UMKM. Ini selaras dengan Program Gubernur Jawa Timur yang mencanangkan OPOP (One Pesantren One Product).” Pungkas pria yang akrab dengan tagline Sembodo.

Dalam kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCNU, KH Salim Azhar menyebutkan bahwa santri memang punya bakat dan potensi yang berbeda-beda.

“Santri itu punya minat dan bakatnya senpuny-sendiri. Tidak semua santri harus dicetak mirip dengan kiainya. Karena itu, seorang kiai harus memahami minat dan bakat santrinya masing-masing,” jelas Yai Salim, panggilan akrab beliau.

“Ada yang bakat jadi politikus, maka lahirlah santri yang jadi anggota DPR. Ada yang bakat jadi pemimpin, lahirlah santri yang jadi presiden atau wakil presiden. Ada yang bakat berdagang, maka lahirlah santri yang jadi miliarder dari bakat dagang itu,” pungkas Pengasuh PP Sunan Sendang Raudlatut Thullab.

Juga hadir dalam kesempatan tersebut, ialah H. Aceng Abdul Aziz, S.Ag. M.Pd. (Kasubdit Pendidikan Diniyah, Ma’had Aly dan Pesantren) dan Dra. Hj. Umi Zakrok, M.Si. (Anggota DPRD Jawa Timur). [KHO]